Postingan

[KENANGAN] Asyiknya Berburu Mahakarya Indonesia Berhadiah Rp99 Juta

Gambar
WAKATOBI, KOMPAS.com - Pesona alam dan kekayaan budaya Indonesia tersebar sampai ke pelosok nusantara, serta diakui dunia. Namun, karena jumlahnya yang terlalu banyak, tak sedikit budaya yang kini mulai tenggelam, terlupakan, bahkan terancam punah. Sadar dengan fenomena itu, digelarlah Potret Mahakarya Indonesia.  Sebuah event yang digagas oleh Dji Sam Soe, untuk mengangkat kembali kekayaan alam dan budaya Indonesia melalui sebuah foto agar dikenal kembali dikenal sampai tingkat dunia. Manager Event PT HM Sampoerna, Dedi Zulfikri mengatakan, dari sekitar 280.000 karya foto yang masuk sejak bulan Mei 2013, disaring menjadi 24 finalis, dan ditentukan tiga pemenang utama untuk kategori kebudayaan, fesyen, dan landskap.  Tim juri yang melakukan seleksi adalah para fotografer kenamaan, seperti Oscar Matulloh, Kristupa Saragih, dan Barry Kusuma. Para pemenangnya masing-masing mendapatkan hadiah uang sebesar Rp 99 juta. Seleksi foto dalam Potret Mahakarya Indonesia dilakukan sejak J...

Kisah Nelangsa Butet, 20 Tahun dalam Pasungan

Gambar
Perempuan berparas cantik itu hanya duduk di atas tempat tidur kayu dalam ruangan dua kali dua meter yang menjadi tempat pemasungannya, saat Tribun Medan melihatnya lewat jendela, Rabu (19/1/2011) kemarin.  Pemilik rambut hitam panjang sebahu itu adalah Siti Nuryalina Purba (41), yang sudah 20 tahun hidup dalam pasungan. Di sebelahnya, sang adik, Janter juga mendapat perlakuan yang sama. Keduanya dipasung pihak keluarga lantaran memiliki kelainan jiwa.   Kaki kiri Siti Nuryalina Purba, yang akrab dipanggil Butet, diikat rantai besi sepanjang satu meter. Mereka berdua menghabiskan seluruh waktunya di dalam pasungan, termasuk untuk urusan buang hajat. Hasilnya, bau tak sedap menyeruak dari dalam ruangan. "Good morning, good morning, sini-sini foto aku lah, kan artis," ujarnya spontan saat melihat kamera.  Butet lebih reaktif daripada sang adik Janter, yang hanya diam saat diberikan kue dan buah. Ibu Butet, Bungani Boru Saragih Munthe, menuturkan kisah sedih yang dijal...

10 Tahun Perjalanan Karier Jurnalistik Arifin Al Alamudi

Gambar
Menjadi jurnalis sejak tahun 2010 di Harian Tribun Medan, saya banyak meliput persoalan ketidakadilan hak asasi manusia dan penindasan terhadap kelompok minoritas, bahkan beberapa kali saya menjadi saksi mata.  Dari situ muncul ide untuk memberitakan dan mengabadikan momen-momen keberagaman di Sumatera Utara secara berkelanjutan. Harapannya menjadi inspirasi bagi pembaca untuk menghargai perbedaan dan hidup harmonis berdampingan. Tulisan berjudul "Butet Melahirkan dalam Pasungan" jadi feature pertama saya tentang penindasan terhadap perempuan, bahkan ditayangkan oleh Tribunnews.com dan Kompas.com pada 2011. Setahun kemudian Arifin berhasil membuat tulisan investigasi berjudul "Uang Honorer Guru Disulap Jadi Mobil Pajero"  (2012). Tulisan ini adalah Fellowship Liputan Investigasi tentang ratusan guru honor di Simalungun yang sudah 9 bulan tidak menerima honor. Tulisan ini diterbitkan menjadi buku kumpulan liputan investigasi oleh LSPP Jakarta. Pada 2013 foto saya be...

Belajar Pengolahan Kopi Sampai ke Bener Meriah

Gambar
Minggu (23/2) sekitar pukul 12.00 WIB Rombongan petani dan pengolah Kopi dari Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara tiba di Desa Mah Bengi, Aceh Tengah, Provinsi Aceh. Setelah istirahat dan makan siang rombongan menuju ke Koperasi Petani Kopi Petri Pintu di Kampung Bale Rdelong Kecamatan Bukit Bener Meriah, Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Di tempat ini, sebanyak 38 orang anggota rombongan akan belajar tentang mengelola tanaman kopi dan koperasi kopi. Ini merupakan rangkaian dari kegiatan Studi Banding Penguatan Kapasitas Petani dan MPIG Kopi Arabika Sipirok mulai tanggal 22-27 Februari 2019. Kegiatan terlaksana berkat kerjasama antara BRI Unit Siporok, Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Arabika Sipirok, serta PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE). Misruran selaku pengurus Koperasi Petri Pintu Bener Meriah menyambut kedatangan rombongan. "Kami sudah menjalani bisnis kopi selama 20 tahun. Sekarang kilang kopi kami bisa memproses minimal dua ton...

Euforia di Titik Nol Kilometer Indonesia

Gambar
Selalu ada rasa bangga saat kita bisa mendatangi satu spot wisata. Apalagi yang belum pernah atau masih jarang dikunjungi. Namun di tempat yang satu ini, walaupun sudah banyak yang mengunjungi, euforia berada di tempat ini sangat tinggi. Seakan kita sudah menggenggam Indonesia di tangan kita. Tempat itu bernama Tugu Kilometer 0 Indonesia yang berada di Sabang, Nanggroe Aceh Darussalam. Inilah ujungnya Indonesia bagian barat. Jika Traveller ingin ke tempat ini, sebaiknya saat sore hari. Kebanggaan yang tak terlupakan dari tempat ini adalah bisa menyaksikan mentari terbenam di ujung laut yang tak berbatas. Ungu, biru, dan merah langit terpantul di lautan luas dan membuat Traveller tak berhenti berdecak kagum. Momen seperti ini hanya berlangsung tiga hingga lima menit saja. Banyak yang berteriak kegirangan saat menyaksikan momen sunset di titik nol. Tak sedikit pula pasangan yang meneriakkan nama kekasihnya sambil pergegangan tangan. Sungguh momen yang tak terlupakan. Penasa...

Aktor Aja Peduli Petani, Apa Kita Hanya Bisa Diam?

Gambar
AKTOR Rio Dewanto menunjukkan rasa simpati terhadap Petani Desa Mekar Jaya, Langkat, Sumatera Utara yang beberapa waku lalu digusur polisi dan tentara. Atas panggilan hati nuraninya, ia datang berkunjung ke Desa Mekar Jaya untuk memberi semangat kepada para petani, Rabu (7/12/2016) kemarin. Didampingi oleh Serikat Petani Indonesia (SPI) Sumatera Utara, ia melihat langsung kehidupan petani pascapenggusuran. " Kondisi saat ini sangat memprihatinkan dari segi ekonomi.  Lahan petani cukup produktif. Namun saat ini lahan sedang status quo sehingga tidak bisa diapa-apain," cerita Rio dalam temu pers di Omerta Coffee Jalan Wahid Hasyim, Kamis (8/12/2016),  Akibat lahan tak bisa dikelola, penghasilan para petani pun terhenti. Para petani pun terancam kelaparan. SPI Sumut memprediksi persediaan makanan petani Mekar Jaya hanya cukup untuk satu bulan. Selanjutnya, jika tidak dibantu dari pihak luar, petani bakal kehabisan bahan makanan. Namun, menurut aktor 29 tah...

Ketika Stadion Teladan Tak Lagi Bertuah untuk Tuan Rumah

Gambar
BAGI satu kesebelasan, stadion ataupun markas tempat berlaga adalah sesuatu yang penting. Selain jadi identitas secara geografis, stadion punya arti lebih jauh. Sebagai simbol keperkasaan klub dan kebanggaan dan kegembiraan selama 2x45 menit laga.  Karena pada umumnya satu tim meskipun sering kalah di markas lawan, namun akan sulit ditaklukkan di markas sendiri. Bahkan saat menghadapi yang levelnya lebih kuat.  SKUAT PSMS MEDAN SAAT BERLAGA DI PIALA PANGLIMA KODAM I/BB Itulah sebabnya beberapa stadion di Eropa menjadi semacam benteng bagi klub-klub tuan rumah. Stadion itu menjadi hidup dan seperti memiliki tuah jika sang tuan rumah sedang menjamu lawannya. Stadion Stamford Bridge milik Chelsea, Camp Nou milik Barcelona, Allianz Arena milik Bayern Munchen, dan San Siro milik AC Milan adalah contohnya. Sang empunya stadion sangat sulit ditaklukkan. Sebagian orang menyebut keangkeran stadion ini dipengaruhi oleh solidnya pemain ke-12 alias s...